Bunda Ayah, Rasakanlah Setiap Kesedihannya

“Suatu ketika kita melihat si kecil yang masih berusia 5 tahun sedang bersedih. Sambil memandangi tanah tempat di kuburnya Bobo, kelinci putih yang cantik binatang kesayangannya. Matanya terlihat berkaca-kaca.”

Bunda dan ayah….
Kita sering mendapati pemandangan seperti ini terjadi pada anak-anak kita. Apakah karena binatang kesayangannya mati, mainan kesayangannya rusak atau hilang atau kondisi lainnya yang membuat ia menjadi sedih.

Ketika mendapati kondisi seperti di atas terhadap anak-anak kita, apa yang akan kita lakukan atau katakan kepada anak-anak kita ?
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un….sudah jangan sedih nak, memang Allah sudah menentukan ajalnya begitu”.
Atau, “Sudahlah nak, jangan sedih. Di pasar masih banyak kok kelinci seperti itu, nanti kita beli lagi…”. Dan kalimat lainnya yang biasa kita ungkapkan kepada anak-anak kita yang sedang bersedih. Agar ia tidak terus berada dalam kesedihannya.

 

Ia yang Bersedih karena Burung Peliharaannya Mati

Kondisi seperti ini akan terus ada dan berulang selama dunia masih memiliki anak-anak. Ketika hal seperti ini terjadi pada anak-anak di sekitar Rasulullah Shallahu’alihi wa’alaihi wasallam, apa yang akan di lakukan oleh Rasulullah ? Mari kita lihat satu episode yang sama ketika Rasulullah Muhammad Shalallahu’alaihi Wasallammendapati kondisi seperti ini,

 

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْخُلُ عَلَيْنَا، وَلِي أَخٌ صَغِيرٌ يُكْنَى أَبَا عُمَيْرٍ، وَكَانَ لَهُ نُغَرٌ يَلْعَبُ بِهِ، فَمَاتَ، فَدَخَلَ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَرَآهُ حَزِينًا، فَقَالَ: مَا شَأْنُهُ؟ قَالُوا: مَاتَ نُغَرُهُ. فَقَالَ: يَا أَبَا عُمَيْرٍ، مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ؟ رواه البخاري ومسلم وأبو داود والترمذي وابن ماجه واللفظ لأبي داود

Dari Anas bin Malik RA katanya: Rasulullah SAW sering menjenguk kami, dan aku mempunyai seorang adik lelaki kecil yang dipanggil Abu ‘Umair. Dia mempunyai seekor burung kecil dan selalu bermain dengannya. Suatu ketika burung itu mati. Maka suatu hari Rasulullah SAW menjenguknya dan melihatnya sedang bersedih. Lalu Rasulullah bertanya: Ada apa dengan dirinya ? Orang-orang menjawab: Burung kecilnya telah mati. Lantas Rasulullah bertanya kepadanya: Wahai Abu ‘Umair, apa yang dibuat oleh si-burung kecil? (Hadith riwayat al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, al-Tirmizi dan Ibn Majah)

Luar biasa….ternyata Rasul tidak mengucapkan seperti apa yang kita duga. Bukankah akan sangat gampang buat Rasulullah untuk mengatakan kepada Abu Umair,”Innalillahi wa innailaihi raji’un. Tidak usah bersedih nak. Sudah takdirnya burungmu mati. Nanti kita cari gantinya”.

Rasulullah malah mendekati Abu Umair dan menanyakan مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ؟ (Apa yang di lakukan oleh burung kecilmu?). Bukankah Rasulullah sudah mengetahui sebab kesedihan Abu Umair ? Bahkan sebelum Rasulullah mendekati dan bertanya kepada Abu Umair apa yang di lakukan burungnya itu, Rasulullah sudah di beritahukan lebih dulu kenapa ia terlihat sedih. Rasulullah bahkan sudah di beritahu kalau penyebab kesedihan Abu Umair adalah burungnya yang mati. Lantas….kenapa Rasulullah bertanya kepada Abu Umair tentang apa yang sedang di lakukan burung kecilnya ? Kenapa Rasulullah tidak bertanya dengan pertanyaan , “Burung kamu mati ya Abu Umair ?”. Subhanallah…inilah pelajaran besar yang harus kita tangkap bunda dan ayah. Bukankah hal yang paling disukai oleh anak-anak adalah ketika orang dewasa antusias bertanya tentang sesuatu kepada dirinya ? Sesuatu yang ia tahu persis. Dan biasanya anak-anak akan dengan sangat bersemangat menjelaskannya. Apalagi kalau orang yang bertanya itu adalah orang yang sangat di cintai dan di hormati oleh dirinya ?

Pertanyaan + Tuduhan

Bunda Ayah…kalau kita melihat anak kita duduk sambil memegang bagian lututnya yang terluka dan mengeluarkan darah, biasanya kita sering bertanya dengan menggunakan sebuah pertanyaan yang bercampur dengan kesimpulan ? ,”Kamu jatuh dimana ? Lutut kamu sampai luka begitu.”. Kalau benar ia terjatuh….kalau tidak ? Itu artinya kita menuduh dia untuk sesuatu yang sama sekali tidak dia alami, sementara dia sedang merasakan sakitnya. Haruskan di tambah dengan kekesalan karena pertanyaan kita ? Akan lebih nyaman kalau kita bertanya kepada anak kita dengan pertanyaan, “Nak..kaki kamu kenapa ?”. Biarkan ia sendiri yang menjelaskannya kepada kita sehingga semua emosi, kepedihan, kekesalan atau yang lainnya dapat tersalur.

Aku Ingin Semua Orang Bisa Merasakan Kesedihanku

Rasulullah ingin agar Abu Umair bercerita langsung kepada dirinya. Menyalurkan semua rasa kesedihannya. Bukankah seorang anak kecil yang sedang bersedih ingin sekali semua orang di sekelilingnya tahu dan bisa merasakan setiap kesedihannya ? Ikut larut dalam kesedihannya pada saat awal ia merasakan itu akan membuat dirinya menjadi sangat di perhatikan, di sayangi dan di hargai. Bukankah musibah pukulan terberatnya di saat awal kejadian ? Dan bukankah kesedihan itu bukan merupakan hal yang di larang di dalam Islam ?

Anas bin Malik berkata:

أنَّ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – دَخَلَ عَلَى ابْنِهِ إبْرَاهيمَ – رضي الله عنه – ، وَهُوَ يَجُودُ بِنَفسِهِ ، فَجَعَلَتْ عَيْنَا رسولِ الله – صلى الله عليه وسلم – تَذْرِفَان . فَقَالَ لَهُ عبدُ الرحمانِ بن عَوف : وأنت يَا رسولَ الله ؟! فَقَالَ : (( يَا ابْنَ عَوْفٍ إنَّهَا رَحْمَةٌ )) ثُمَّ أتْبَعَهَا بأُخْرَى ، فَقَالَ : (( إنَّ العَيْنَ تَدْمَعُ والقَلب يَحْزنُ ، وَلاَ نَقُولُ إِلاَّ مَا يُرْضِي رَبَّنَا ، وَإنَّا لِفِرَاقِكَ يَا إبرَاهِيمُ لَمَحزُونُونَ ))

Rasulullah masuk (*di rumah ibu susuan Ibrahim) menemui Ibrahim yang dalam keadaan sakaratul maut bergerak-gerak untuk keluar ruhnya. Maka kedua mata Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallampun mengalirkan air mata.
Abdurrahman bin ‘Auf berkata, “Engkau juga menangis wahai Rasulullah?”. Maka Nabi berkata, “Wahai Abdurrahman bin ‘Auf, ini adalah rahmah (kasih sayang)”. Kemudian Nabi kembali mengalirkan air mata dan berkata, “Sungguh mata menangis dan hati bersedih, akan tetapi tidak kita ucapkan kecuali yang diridhoi oleh Allah, dan sungguh kami sangat bersedih berpisah denganmu wahai Ibrahim
“.(HR Al-Bukhari no 1303)

إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الأُولَى

“Yang namanya sabar seharusnya dimulai ketika awal ditimpa musibah”.(HR Al Bukhori 1203)

Bunda ayah, Rasulullah Muhammad Shalallahu’alaihi wasallam berupaya masuk ke dalam wilayah kesedihan yang di rasakan oleh Abu UmairMenyatukan dirinya dengan perasaan sang anak yang sedang bersedih. Membangun kedekatandengan dirinya. Jembatan perasaan, kasih sayang, emosi….adalah salah satu bagian paling vital di dalam membangun karakter seorang anak. Ketika kita ingin mengajarkan dan membangun bangunan Keimanan, Ibadah, Akhlak dan lainnya. Kita butuhkan jembatan ini untuk memudahkan tegaknya bangun tersebut. Bunda ayah, semoga Allah senantiasa memberkahi keluarga kita, keluarga yang selalu berusaha belajar dari pesan-pesan nubuwah.

0 Comments

Leave your comment