Sentuhan Rasa Sayang di Waktu Sholat

Bunda Ayah….
Pernah tidak pada saat kita sholat si kecil merengek-rengek mendekati kita? Menarik-narik atau meminta sesuatu sambil menangis. Apa yang kita lakukan ? Kebanyakan di antara kita diam mengabaikan si kecil dan berusaha untuk tetap fokus di dalam sholat. Setelah selesai, tidak jarang kita memarahi dia, “Dedek gimana sih…kan dedek udah lihat mama lagi sholat. Sudah berapa kali mama bilang ke Dedek kalau mama sedang sholat jangan di ganggu. Tunggu sampai mama selesai, kok Dedek masih gak ngerti aja sih.

Mungkin hampir setiap kita yang memiliki anak usia Balita pernah mengalami kejadian seperti di sebutkan di atas. Ini pun dunia yang sama dari dulu hingga kini. Sholat dan anak-anak adalah sebuah konteks kejadian yang selalu ada di setiap zamannya. Bunda ayah…mari kita lihat hadits berikut ini,

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ اْلأَنْصَارِيِّ قَالَ

رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَؤُمُّ النَّاسَ وَأُمَامَةُ بِنْتُ أَبِي الْعَاصِ وَهِيَ اِبْنَةُ زَيْنَبَ بِنْتِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى عَاتِقِهِ فَإِذَا رَكَعَ وَضَعَهَا وَإِذَا رَفَعَ مِنَ السُّجُوْدِ أَعَادَهَا

Dari Abu Qatadah al-Anshari Radhiyallahu’anhu dia berkata:
“Saya melihat Nabi Shallallahu’alaihiwasallam mengimami shalat orang-orang sambil menggendong Umamah binti Abu al-’Ash, bayi Zainab binti Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam di atas pundak beliau. Apabila beliau ruku’ maka beliau meletakkan anak itu, dan apabila beliau berdiri dari sujud maka mengembalikannya (maksudnya menggendongnya kembali).” (Shahih Muslim 543-42)

Hadits di atas semakin membuka mata kita tentang kasih sayang terhadap anak yang bahkan tidak terbatasi oleh ibadah mahdah. Sholat adalah ibadah utama dalam kehidupan seorang muslim. Tapi Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk tidak merusak bangunan emosi anak yang sedang tumbuh. Pada saat sholat kita sedang menghadap Allah yang Rahman dan Rahim, anak kecil tidak memahami hakikat pentingnya sholat. Anak kecil hanya tahu kalau ia sedang butuh kita dan kita mengabaikan kebutuhannya dengan hanya berdiri, rukuk, sujud dalam khusu’nya kita. Dan itu tidak baik untuk perkembangan bangunan emosi seorang anak. Lihatlah Rasulullah yang sangat menjaga tumbuh kembangnya bangunan emosi itu. Rasulullah tetap mengimami sholat bersama para shahabat sembari menggendong Umamah. Bukankah Rasulullah di utus sebagai rahmat bagi sekalian alam? Hakikat hadirnya kasih sayang itu tidak boleh hilang bahkan dalam sholat sekalipun. Itu pulalah yang menjadikan Rasulullah mempercepat sholatnya ketika terdengar ada suara anak kecil yang menangis. Dan itu pulalah yang di rasakan Hasan dan Husein ketika menaiki punggung Rasulullah yang sedang sujud. Rasulullah sengaja memanjangkan sujudnya agar kenyamanan bermain mereka tidak terganggu.

عَنْ شَدَّادِ اللَّيْثِي قَالَ : خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللهِ فِي إِحْدَى صَلاتَيْ العَشِيِّ الظُّهرِ أَوِ العَصْرِ وَهُوَ حَامِلُ حَسَنٍ أَوْ حُسَيْنٍ فَتَقَدَّمَ النَّبِيُّ ص فَوَضَعَهُ ثُمَّ كَبَّرَ لِلصَّلاَةِ فَصَلىَّ فَسَجَدَ بَيْنَ ظَهْرَي صَلاَتِهِ سَجْدَةً أَطَالَهَا. قَالَ: إِنِّي رَفَعْتُ رَأْسِي فَإِذَا الصَّبِيُّ عَلىَ ظَهْرِ رَسُولِ اللهِ ص وَهُوَ سَاجِد. فَرَجَعْتُ فيِ سُجُوْدِي. فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللهِ ص الصَّلاَةَ قَالَ النَّاسُ: ياَ رَسُولَ اللهِ إِنَّكَ سَجَدْتَ بَيْنَ ظَهْرَي الصَّلاَةَ سَجْدَةً أَطَلْتَهَا حَتىَّ ظَنَنَّا أَنَّهُ قَدْ حَدَثَ أَمْرٌ أَوْ أَنَّهُ يُوحَى إِلَيْكَ. قَالَ: كُلُّ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ وَلَكِنَّ ابْنِي ارْتَحَلَنِي فَكَرِهْتُ أَنْ أُعَجِّلَهُ حَتىَّ يَقْضِيَ حاَجَتَهُ – رواه أحمد و النَّسائي والحاكم

Dari Syaddan Al-Laitsi radhiyallahuanhu berkata,”Rasulullah SAW keluar untuk shalat di siang hari entah dzhuhur atau ashar, sambil menggendong salah satu cucu beliau, entah Hasan atau Husain. Ketika sujud, beliau melakukannya panjang sekali. Lalu aku mengangkat kepalaku, ternyata ada anak kecil berada di atas punggung beliau SAW. Maka Aku kembali sujud. Ketika Rasulullah SAW telah selesai shalat, orang-orang bertanya,”Ya Rasulullah, Anda sujud lama sekali hingga kami mengira sesuatu telah terjadi atau turun wahyu”. Beliau SAW menjawab,”Semua itu tidak terjadi, tetapi anakku (cucuku) ini menunggangi aku, dan aku tidak ingin terburu-buru agar dia puas bermain.” (HR. Ahmad, An-Nasai dan Al-Hakim)

Ya….Bunda ayah..lihatlah perkataan Rasulullah…”Semua itu tidak terjadi, tetapi anakku (cucuku) ini menunggangi aku, dan aku tidak ingin terburu-buru agar dia puas bermain.” Rasulullah tidak ingin memutus permainan cucu-cucunya yang sedang asyik bermain di atas punggung beliau. Bukankah kalau kita sedang asyik melakukan sesuatu tiba-tiba apa yang kita kerjakan menjadi terhenti akan membuat kita menjadi sangat kecewa? Dapat kita bayangkan kalau hal itu terjadi dengan anak-anak kita yang masih kecil, mereka pun pastilah akan sangat kecewa. Bunda ayah…sepertinya kita memang harus lebih banyak lagi belajar dari Rasulullah Muhammad Shalallahu’alaihi Wasallam, agar segala bentuk pola asuh yang kita terapkan menjadi efektif dan tidak kontra produktif terhadap tumbuh kembangnya psikologi anak-anak kita. Semoga Allah selalu memberkahi keluarga kita  yang selalu belajar mengambil inspirasi dari ayah terbaik di alam semesta ini, Rasulullah Muhammad Shalallahu’alaihi Wasallam.

0 Comments

Leave your comment