IHDINASH SHIRAATHAL MUSTAQIIM

“IHDINASH SHIRAATHAL MUSTAQIIM”

GOD, please guide us to the straight path

(Wiwit Simponi, Alumni Akademi Keluarga angkatan 2)

 

Makna  ayat 6 surat pembuka Al Qur’an tersebut menjadi mendalam bagi diri ini setelah sekian lama…

Ketika gundah melanda … meratapi diri…

Apakah jalan hidup yang selama ini sudah benar?

Benar menurut siapa?

Menurut nafsu pemikiran saya pribadi ? Menurut euforia pandangan hegemoni masyarakat semata?

Kegelisahan itu mulai terjadi ketika saya menerima amanah pertama kali berupa bayi lelaki mungil, akankan saya bisa menjadi Ibu yang baik baginya? Itu menjadi pertanyaan terbesar saya.

Hanya berbekal sedikit ilmu dari literatur buku dan artikel yang bersifat teknis. Berupa referensi psikologi pendidikan anak dan artikel-artikel penelitian ilmiah. Tetapi tetap saja saya belum menemukan kerangka besar konsep  bagaimana merawat dan mendidik anak secara benar.

IBU.. menjadi peran besar pertama bagi saya. Mengalahkan peran, posisi, dan titel  terbaik yang pernah saya peroleh sebelumnya dalam hidup.

Sebagai Ibu yang masih bekerja di ranah publik , menjadikan saya seperti ‘sekadar menjadi ibu’ secara fisik.

Ironi… Hanya kurang lebih 2 jam waktu yang saya punya untuk memeluk anak saya bermain dengannya di sisa energi saya , hingga akhirnya ia tertidur dengan lelapnya.  12 jam saya berada di luar rumah, 4 jam untuk perjalanan pulang pergi dan minimal 8 jam saya bekerja. Sisanya waktu untuk mengumpulkan tenaga dan persiapan kembali untuk esok paginya. Bila anak mungil itu tidak merengek masih ingin bermain bersama ibu nya dan menahan saya untuk tidak meninggalkannya di pagi hari.

Menyiapkan substansi, presentasi, rapat koordinasi, terbang lintas kota, dan negara menjadi lahapan rutinitas. Berusaha menyajikan yang terbaik… entah untuk apa…

Hingga lingkaran rutinitas tersebut terasa hampa dan semu, lelah seakan semua tidak ada habisnya…

Titik balik ketika haus akan ilmu, mencari tempat belajar yang ingin bisa lebih mendekatkan diri kepada Ilahi, yang bukan hanya sekedar mengaji tetapi juga mengkaji ayat-ayat dari konsep hingga aplikasi. Menjadi hamba, istri, dan seorang ibu yang lebih baik dimata Nya..

Alhamdulillah Ilahi Rabbi membukakan jalannya… jawaban dari do’a hamba…

Menemukan tempat belajar berlandaskan sumber utama ilmu yaitu  Al Quran dan Sunnah. Juga para Ulama yang berpegang teguh pada kedua pusaka itu jua.

Tempat  yang bukan hanya mengaji tetapi juga mengkaji setiap ayat nya, berlandaskan perintah Nya. Untuk apa kita diciptakan, tugas utama apa yang harus diselesaikan sebagai khalifah bumi yang diciptakan hanya untuk beribadah kepada-Nya, peran saya sebagai hamba nya, istri dan ibu yang baik menurut pandangan-Nya. Kerangka besar konsep dalam mendidik anak yang menjadi amanah utama bagi seorang ibu, bagaimana harmonisasi dan berbagi peran antara suami dan istri,bagaimana mendidik dengan keteladanan merupakan cara yang paling efektif, bagaimana peran-peran tersebut bila dijalankan dengan baik akan menuntun keluarga kita bersama menuju tujuan akhir yaitu Surga-Nya.

Masyaa Allah seketika saya merasakan begitu besar rahmat dan hidayah yang diberikan.

Tidak sampai di situ Allah kembali menunjukkan jalan melalui suami saya. Beliau ingin didampingi istri dan anaknya selama menjalankan studi. Hanya berharap ridha Ilahi melalu ridho suami, saya dibebas tugaskan sementara dari pekerjaan saya untuk mendampingi suami. Keputusan yang disayangkan oleh beberapa rekan kerja saya.

Allah menunjukkan Rahmat-Nya kembali. Justru saya menemukan Quality of Life yang sebenarnya ketika saya mendampingi suami berkumpul bersama keluarga kecil kami. Kebersamaan dan kehangatan yang tidak ternilai harganya di setiap waktunya. Gelak canda tawa yang terdengar. Senyum bahagia  suami dan anak saya ketika menyantap hasil masakan yang saya buat. Sambil berbincang  dan  berbagi rasa ketika ia kembali ke rumah. Semua ini menjadi hal yang sangat membahagiakan.

Hingga pada satu Ramadhan, saya merasakan ketenangan hidup yang merupakan aset  berharga dan tak ternilai. Ketika semua dijalankan sesuai perintah-Nya, justru saya merasakan syariat-Nya sungguh sangat menenangkan hidup.

Saya menangis bahagia memanjatkan syukur tak terkira atas nikmat  petunjuk yang telah  Allah berikan,

Ya Robbi… Saya tidak ingin melepas semua nya ini.. .

Ini kebahagiaan yang nyata dan harus diperjuangkan.

Saya berazam untuk terus belajar dan berusaha  memperbaiki kualitas diri sebagai hamba, istri dan seorang ibu yang baik di mata-Nya. Hingga tercetus niat untuk tidak kembali bekerja dan mengajukan surat permohonan pengunduran diri.

Saya selalu membayangkan bagaimana pertanggungjawaban saya di akhirat kelak ketika amanah utama saya sebagai seorang hamba, istri dan ibu terlalaikan…

Suami mendukung keputusan yang telah diyakini bersama. Kami ingin hijrah bersama ke jalan-Nya.

Sebuah keputusan  besar bagi saya dan keluarga saya. Terlebih keluarga besar saya yang menyarankan saya untuk mempertimbangkan kembali.

Ihdinash Shiraathal Mustaqiim…

Tunjukkanlah kami jalan yang lurus… jalan yang Engkau ridhoi…

Do’a yang kupanjatkan setiap sholat..

Tunjukkanlah sebaik-baik petunjuk apa yang harus kami lakukan dan apa yang tidak seharusnya kami lakukan.

Alhamdulillah… Segala puji hanya bagi-Nya…

Setelah berupaya berkomunikasi dengan cara yang baik kepada kedua orang tua bahwa niat saya dan suami lillahi ta’ala, dan orang tua pun melihat perkembangan akhlak anak kami yang semakin baik ,Allah melembutkan hati kedua orang tua kami. Mereka mendukung niat saya untuk mengundurkan diri dari instansi tempat saya bekerja. Bahkan saya terharu, justru ayah saya yang membantu merevisi konsep surat permohonan pengunduran diri saya sebagai abdi negara.

Bismillah… Bi’idznillah.. Allah menunjukkan jalan-Nya..

Di tanggal kelahiran mu anakku, Ibu sudah menyiapkan diri untuk mengutarakan niat dan menyerahkan surat permohonan pengunduran diri Ibu.

Banyak pihak yang menyayangkan keputusan Ibu, bahkan beberapa menawarkan posisi dan jabatan bila Ibu ingin tetap kembali bekerja.

Ibu ingin bekerja, Nak.. Bekerja untukmu karena Allah… Dengan amanah utama yang Allah berikan yaitu untuk mendidikmu, merawatmu, menanamkan iman kepadamu. Agar engkau semakin mencintai Allah dan dicintai-Nya. Menjauhkanmu dari siksa api neraka dan berkumpul bersama sekeluarga hingga ke surga-Nya.

Ma syaa Allah.. Allah kembali menunjukkan jalannya, Allah memberikan kemudahan dengan mempertemukan manusia-manusia pilihanmu yang mendukung langkah keputusanku dan mempermudah dalam prosesnya, karena mereka mempunyai visi yang sama bahwa keluarga merupakan prioritas utama.

Hingga akhirnya surat keputusan pemberhentian secara resmi saya terima, menjadi titik balik dan keputusan terbaik saya… Lagi, semuanya hanya karena mengharap ridho-Nya..

Bismillah… Saya awali langkah hidup saya kembali di jalan-Mu Ya Rabb..

Ihdinash Shiraathal Mustaqiim…

Tetapkan kami merasakan nikmat di jalan-Mu Ya Robb…

Senyum bahagia anak dan suami menyambut hangat saya…

1 Comment

  1. Stutzh 15 Agustus 2018
    Reply

    Hiks mba Wit… Doakan saya ya… Hiks hiks..
    Selamat kembali ke rumah mba…

Leave your comment