Obrolan Menjelang Tidur

Bunda ayah…yuk kita lihat apa komentar dua orang bunda tentang kebiasaan bincang-bincang suami isteri menjelang tidur,
Saya selalu berusaha untuk bisa ngobrol dengan suami menjelang waktu tidur. Kalau kami lupa satu sama lain tentang suatu hal, maka di tempat tidurlah kami saling mengingatkan. Kami juga bicara tentang anak-anak, apa saja yang mereka kerjakan termasuk permasalahan-permasalahan mereka“.

Yang saya rasakan, waktu menjelang tidur adalah saat terbaik untuk dapat berbicara dengan suami. Kecuali bicara problem dalam hubungan kami, ini menjadi waktu yang buruk. Kami berdua sangat menikmati perbincangan menjelang tidur. Karena di waktu itulah saya dan suami benar-benar bisa konsentrasi untuk berdiskusi. Saya benar-benar menyukai berbincang-bincang  dengan suami sebelum tidur,  sepertinya tidur itu jadi lebih nikmat“.

Bagaimana dengan bunda yang lain…? Pasti kita semua punya kesan tersendiri tentang obrolan antara suami isteri menjelang tidur. Ada kesan baik…ada kesan buruk…atau malah ada yang gak berkesan sama sekali karena tidak pernah punya kesempatan untuk itu ?

Berkata Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu,

بِتُّ عِنْدَ خَالَتِي مَيْمُوْنَةَ فَتَحَدَّثَ رَسُوْلُ اللهِ  صلى الله عليه وسلم  مَعَ أَهْلِهِ سَاعَةً ثُمَّ رَقَدَ

Aku menginap di rumah bibiku Maimunah (istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbincang-bincang dengan istrinya (Maimunah) beberapa lama kemudian beliau tidur”. ( HR Al-Bukhari IV/1665 no 4293 dan Muslim I/530 no  763)

Subhanallah…dari apa yang di sampaikan Abdullah bin Abbas kepada kita ternyata Rasulullah pun berbincang-bincang dengan isterinya menjelang tidur. Padahal Rasulullah paling tidak suka tidur sebelum sholat Isya dan berbincang-bincang setelah sholat Isya. Sebagaimana yang di sampaikan oleh Abu Barzah Al-Islami :

وَكَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَهَا وَالْحَدِيْثَ بَعْدَهَا

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum isya’ dan berbincang-bincang setelahnya” (HR Al-Bukhari I/201 no 522 dan Muslim I/447 no 647)

Ada hal yang sangat khusus dan begitu spesial. Karena ini bukanlah sembarang perbincangan. Ini adalah perbincangan antara sepasang kekasih yang Allah padukan dalam ikatan pernikahan. Sebuah ikatan perjanjian yang Allah sebut mitsaqon ghaliza(perjanjian yang kokoh (An Nisa:21)). Sebutan yang Allah pergunakan ketika Allah mengambil perjanjanjian dari para Ulul Azmi -Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa- untuk mengemban amanah idzharul (penegakan) Islam (Al Ahzab:7-8). Juga sebutan yang sama, saat Allah angkat bukit Thursina untuk mengambil perjanjian & sumpah setia dari Bani Israil dalam memurnikan ketaatan & kepatuhan padaNYA semata (An Nisa:154).

Ayah…sebagai suami, menjadi terbayanglah oleh kita ucapan yang terlihat sederhana pada saat kita melakukan proses ijab qabul. Sungguh tidak sederhana, karena Allah menyamakan ucapan kita itu dengan perjanjian Alllah dan para Rasul pilihannya, juga di samakan dengan perjanjian Allah dengan janji dan sumpah setia Bani Israil dalam patuh dan taat kepada Allah. Inilah sebuah perjanjian yang kita di tuntut untuk membawa mahligai rumah tangga ini dalam patuh dan ta’at kepada Allah.

Ayah….terasa ya beratnya ?

Obrolan dengan isteri menjelang tidur sepertinya sederhana. Di tengah lelah dan penat kita para suami, butuh perjuangan yang luar biasa.

Seorang suami berkata,” Ternyata memang berat untuk bisa berbincang-bincang menjelang tidur. Mendengarkan detil pembicaraan isteri kita yang terkadang sangat  “remeh temeh”“.

Ayah….isteri kita adalah tanggung jawab kita, ia yang kita minta kepada kedua orang tuanya atas nama Allah. Yang karena itulah kepemilikan penuh kedua orang tuanya berikut tanggung jawab mereka menjadi pindah ke kita para suami. Ia menjadi tanggung jawab kita di dunia dan akhirat. Tidak ada yang remeh temeh dan tidak ada yang sederhana. Hatta untuk sebuah tatapan mesra dan sesungging senyuman di bibir karena semua bernilai ibadah.

Buat para bunda …obrolan dan perbincangan menjelang tidur adalah momen yang paling di tunggu. Ada kejadian-kejadian menarik yang menurut bunda harus di sampaikan kepada suami.  Tapi belum tentu untuk para ayah. Bunda, menjadi tantangan buat kita untuk membuat senang para suami meladeni obrolan kita. Menjadi tantangan tersendiri buat kita membuat obrolan menjadi menarik dan di minati oleh suami kita. Karena di tengah penat dan lelahnya mereka bahkan tidak semua permasalahan di kantor bisa luruh dan hilang dalam ingatan mereka saat tiba di rumah. Tapi dengan kelembutan, kasih sayang dan kesabaran kita, insya-Allah ini menjadi sebuah jembatan yang akan mengantarkan kita dalam sebuah obrolan pengantar tidur yang berkualitas dan penuh kemesraan.

Buat para ayah…mungkin kita harus berjuang keras di tengah kelelahan dan kepenatan merubah kata-kata isteri yang sekedar nyanyian pengantar tidur menjadi sebuah romantisme dialog yang bernilai ibadah. Karena para isteri adalah patner kita untuk mendidik anak-anak yang akan membangun peradaban. Dan ia pun merupakan kredit poin kita di hadapan Allah Subhanawata’ala ketika kita harus mempertanggung jawabkan ucapan janji kita di saat ijab qabul.

0 Comments

Leave your comment