Ternyata Nasyid Itu Telah Tergantikan

Saya mencoba memahami dan mendalami rasa itu. Saya pun bisa merasakan bahwa pergerakkan positif mereka dari bernasyid ria (yang terkadang kebablasan) menuju Al Quran, inilah yang menyebabkannya. Hal ini semakin menguatkan dan membenarkan penjelasan para ulama kita bahwa kebahagiaan, kesenangan, ketenangan yang diberikan oleh Al Quran jauh lebih indah dibandingkan yang disuguhkan oleh lagu-lagu dan nasyid. Siapa yang bisa merasakan perbedaan ini tentu adalah mereka yang telah lama memenuhi kepalanya dan lirik nasyid dan genderang bunyinya. Karena mereka punya perbandingan.

Maka menjadi aneh ketika orang-orang yang dahulu asyik menyanyi telah berpindah kepada Al Quran dan tidak mau pindah lagi ke lagu atau nasyid, sementara yang sejak lama bersama Al Quran justru berpindah ke sibuk melantunkan lagu dengan dalih religi.

Tapi hanya sebatas itu yang bisa saya pahami dari penolakan tersebut.

Hingga saya membaca buku Syaikh Munir Ghodhban, pakar Siroh Nabawiyyah dalam bukunya Al Manhaj Al I’lami Lis Siroh An Nabawiyyah. Buku ini berisi tentang konsep media dalam Siroh Nabawiyyah. Media zaman itu diwakili perannya oleh syair. Di akhir buku lebih dari 700 halaman itu, beliau menutup dengan menyebutkan pilar sastrawan saat itu; 4 orang penyair handal yang dahulu memusuhi Nabi, Al Quran dan muslimin kemudian semuanya mendapatkan hidayah.

Syaikh Munir menyoroti satu hal penting. Di tengah bahwa syair saat itu mengambil fungsi media sehingga berposisi strategis untuk menyampaikan ajaran syariat juga, tetapi mereka semua berhenti bersyair justru setelah masuk Islam. Nyaris sudah tidak ada lagi karya mereka di dunia sastra dan seni yang satu ini. Padahal jika bicara tentang fungsi, jelas bahwa Syaikh Munir sendiri menulis buku ini untuk menjelaskan bahwa posisi syair saat itu sangat strategis.

Pertanyaannya, mengapa?

Bukankah mereka ahlinya?

Bukankah posisinya strategis untuk Islam?

Sebelum mendapatkan jawabannya, inilah ke-4 penyair tersohor yang mendapatkan hidayah itu:

Abdullah bin Az Za’bara adalah penyair nomor wahid di Mekkah. Setelah ia masuk Islam, ia menyampaikan permohonan maaf atas kekafirannya di masa lalu dan pengingkarannya serta penghinaannya terhadap Al Quran.

Dhirar bin Al Khaththab al Fihri adalah penyair terkenal yang sangat memusuhi Islam di masa lalunya dengan syair dan pedangnya. Ketika ia mendapatkan hidayah, ia meminta maaf atas kebodohannya di masa lalu dan berharap kepada Rasulullah untuk menyelamatkan Mekah dari kehancuran. Menurut Ibnu Hibban, Dhirar ini adalah sastrawan nomor satu bahkan Abdullah bin Az Za’bara pun kalah.

Abu Sufyan bin Al Harits adalah sastrawan besar Quraisy yang memiliki hubungan kekerabatan dengan Rasulullah. Menurut Ibnu Hajar dalam Al Ishobah, dia adalah anak paman Rasulullah. Dia masuk Islam terlambat; pada peristiwa Fathu Makkah. Masa lalunya pun sama dengan para penyair di atas, menghina dan menyakit Rasulullah dan muslimin. Hingga akhirnya Nabi menyematkan harapan padanya agar ia bisa menjadi pengganti Hamzah.

Labid bin Rabi’ah adalah orang yang paling tersohor dibandingkan ketiga penyair di atas. Bahkan ia disebut sebagai penyair paling handal di seantero Arab. Karena ia adalah salah satu pemilik ketenaran Al Mu’allaqot As Sab’ah (syair paling terkenal yang ditempelkan di dinding Ka’bah). Bahkan Rasulullah pernah menyitir salah satu bait syair yang dibuatnya dan disebut sebagai kalimat paling benar. Setelah masuk Islam, hanya ada satu syairnya yang tercatat yang berisi tentang kesedihan atas wafatnya Rasulullah.

Bahkan para penyair Rasulullah di Madinah yang sangat produktif di saat beliau masih hidup pun berhenti bersyair sepeninggal Rasulullah. Mereka adalah Hassan bin Tsabit dan Ka’ab bin Malik.

Kini mari kita simak penjelasan Syekh Munir Ghodhban, mengapa mereka meninggalkan syair justru setelah masuk Islam padahal mereka ahlinya dan syair adalah salah satu perangkat da’wah Islam.

Setidaknya ada 3 jawaban:

  1. “Kami jumpai ia (Abdullah bin Az Za’bara) berhenti  bersyair, karena ia berharap bisa mengejar kafilah muslimin dan mampu mendapatkan ketertinggalannya di berbagai kesempatan.”
  2. “Sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Al Ishobah: ketika Umar menulis surat untuk pejabatnya di Kufah: Tanyakan kepada Labid dan Al Aghlab Al ‘Ijli, apa yang mereka lakukan dengan syair saat mereka telah masuk Islam. Labid menjawab: Allah telah menggantikan syairku dengan Surat Al Baqarah dan Ali Imron. Maka Umar pun menambahi pemberian negara baginya.”
  3. Syekh Munir menjelaskan tentang Hassan dan Ka’ab yang dahulu bersyair untuk Nabi dan muslimin, tapi akhirnya juga berhenti bersyair. “Hal itu, setelah keduanya melaksanakan peran terbesar mereka dalam syair perlawanan dan peperangan di zaman Nubuwwah. Maka selanjutnya mereka fokus pada perbuatan, setelah memaksimalkan peran mereka dalam perang pedang dan perang pena.”

Ya,

Mengejar ketertinggalan

Telah digantikan dengan Al Quran

Dan…

Telah tiba masa berbuat!

 

Sekarang saya semakin paham.

 

0 Comments

Leave your comment