Kepada-Mu Yang Maha Mendengar

Adakah orang tua yang tidak ingin memberi yang terbaik untuk anak mereka?

Sejatinya semua orang tua, tanpa kecuali, ingin selalu memberikan yang terbaik untuk anak mereka. Tak heran kemudian kelas-kelas parenting berjamuran di sana sini. Mereka berharap mendapatkan panduan yang dapat mereka ikuti sehingga tidak salah mendidik anak-anak mereka, dan menjadikan kehidupan anak-anak mereka menjadi lebih baik.

Kelas parenting biasanya bermula dari kisah sukses anak yang berprestasi di usia muda, lalu orang tuanya diminta berbagi tips cara menjadikan anaknya seperti itu.

Dari bagaimana keseharian si anak, jadwal bangun tidurnya, jam ziyadahnya, jam murojaahnya, bahkan sampai makanan apa yang dimakan si anak.

Ada juga seseanak yang diterima di berbagai universitas terkenal dunia, lalu dicari tahulah anak itu bersekolah di mana saja waktu SD, SMP, SMA nya, lalu diikuti dan berharap anaknya akan sama berprestasinya.

Salahkah?

Entah. Tapi di hati ini muncul rasa tidak nyaman.

Teringat kalimat sahabat, Abdullah bin Mas’ud, “Barangsiapa mengikuti, maka hendaklah dia mengikuti orang yang telah meninggal dunia. Sebab orang yang masih hidup tidak aman dari cobaan.”

Cukuplah kalimat ini untuk membuat kita bermuhasabah, kenapa kita sibuk mengilik-ngilik kisah sukses seseorang yang masih hidup, yang kita belum tahu akhir hidupnya, tapi abai terhadap pesan cinta dari Yang Maha Mengetahui.

Bukankah telah datang kepada kita kisah Maryam? Bagaimana Allah menggambarkan wanita pilihan ini? Dan bagaimana posisinya di hadapan Rabbnya?

وَاِذْ قَالَتِ الْمَلٰۤىِٕكَةُ يٰمَرْيَمُ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰىكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفٰىكِ عَلٰى نِسَاۤءِ الْعٰلَمِيْنَ

Dan (ingatlah) ketika para malaikat berkata, “Wahai Maryam! Sesungguhnya Allah telah memilihmu, menyucikanmu, dan melebihkanmu di atas segala perempuan di seluruh alam (pada masa itu). (QS Ali Imran: 42)

Masya Allah…

Maka pantasnya kita belajar dari orang tua Maryam, bagaimana mereka bisa menghasilkan anak seperti Maryam, yang dipilih, disucikan dan dilebihkan langsung oleh Allah dan diabadikan dalam Al Quran.

Simaklah ayat berikut ini:

 اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰىٓ اٰدَمَ وَنُوْحًا وَّاٰلَ اِبْرٰهِيْمَ وَاٰلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعٰلَمِيْنَۙ

Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (pada masa masing-masing). (QS Ali Imran: 33)

Mungkin sudah banyak yang membahas ayat ini dari tafsirnya. Namun tulisan kali ini akan secara spesifik membahas tentang keluarga Imran dan tips parenting yang bisa kita dapatkan dari ayat-ayat Al Quran yang menuliskan kisah tentang keluarga Imran.

Siapa keluarga Imran?

Ada beberapa fakta menarik yang mungkin sudah sering dibahas, tapi akan kita ulang kembali pembahasannya untuk menguatkan ingatan kita tentang keluarga Imran.

Fakta pertama, dijadikan nama surat dalam Al Quran. Dan ini menjadikannya satu-satunya nama surat yang dinamakan dengan “Ali” alias keluarga. Bahkan keluarga Ibrahim alaihissalam yang disebut sebelum keluarga Imran dalam ayat di atas tidak dijadikan nama surat. (Ada surat Ibrahim, tapi bukan Ali Ibrahim: pen).

Fakta kedua, tidak ditemukan kisah hidup Imran sama sekali dalam Al Quran. Disebut namanya, tapi tidak ada kisah tentangnya secara pribadi.

Fakta ketiga, kisah keluarga Imran justru dimulai dari kisah istri Imran yang sedang hamil dan berdoa kepada Rabb-nya. Dan dari fakta ketiga inilah pembahasan artikel ini akan berpusat.

Ayat pembahasan keluarga Imran dimulai dari QS Ali Imran: 35.

اِذْ قَالَتِ امْرَاَتُ عِمْرَانَ رَبِّ اِنِّيْ نَذَرْتُ لَكَ مَا فِيْ بَطْنِيْ مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّيْ ۚ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

(Ingatlah), ketika istri Imran berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku bernazar kepada-Mu, apa (janin) yang dalam kandunganku (kelak) menjadi hamba yang mengabdi (kepada-Mu), maka terimalah (nazar itu) dariku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”

Ayat ini menyampaikan kepada kita, tentang kisah istri Imran yang berdoa kepada Rabb-nya. Dia bernazar menjadikan janin yang ada dalam kandungannya menjadi hamba yang mengabdi kepada Rabb-nya dan memohon agar nazarnya diterima. Dan ditutup dengan pujian kepada Allah, Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.

Lalu dilanjutkan dengan ayat berikutnya (QS Ali Imran: 36):

فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ اِنِّيْ وَضَعْتُهَآ اُنْثٰىۗ وَاللّٰهُ اَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْۗ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْاُنْثٰى ۚ وَاِنِّيْ سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَاِنِّيْٓ اُعِيْذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطٰنِ الرَّجِيْمِ

Maka ketika melahirkannya, dia berkata, “Ya Tuhanku, aku telah melahirkan anak perempuan.” Padahal Allah lebih tahu apa yang dia lahirkan, dan laki-laki tidak sama dengan perempuan.” Dan aku memberinya nama Maryam, dan aku mohon perlindungan-Mu untuknya dan anak cucunya dari (gangguan) setan yang terkutuk.”

Ayat ini menyampaikan kisah kelahiran anak perempuannya, dan lagi-lagi kisah yang disampaikan adalah kisah istri Imran yang sedang berdoa. Apa doanya kali ini? Dia seakan berdialog kepada Rabb-nya tentang jenis kelamin bayi yang dia lahirkan, nama bayinya, dan permohonan agar Allah melindungi anaknya dan keturunannya dari gangguan setan yang terkutuk.

Dan ayat berikutnya menunjukkan penerimaan Allah atas nazar dan doa istri Imran, termasuk di dalamnya kemudian sekilas tentang pembahasan perlindungan dan keistimewaan yang Allah berikan untuk Maryam, putri Imran.

Lalu apa yang bisa kita pelajari?

Pembahasan keluarga terpilih dalam Al Quran ternyata tidak bermula dari tips-tips parenting yang banyak dibahas dalam seminar-seminar parenting yang digelar di lingkungan kita. Ternyata tidak ada pembahasan seperti: tips ibu sehat selama hamil, tips makanan sehat ibu hamil, tips melahirkan normal, tips menggendong bayi, tips asi berlimpah, tips mpasi, dan tips-tips lainnya.

Tapi Allah justru menyampaikan tentang DOA berupa nazar seorang ibu hamil.  

Mari kita selami cara Istri Imran berdoa.  Kalimat yang diucapkan dalam doanya menunjukkan kedekatan yang luar biasa pada Rabb-nya. Paduan kecintaan, keikhlasan, pengorbanan dan keyakinan yang besar dalam setiap kata yang diucapkannya.

Cara istri Imran menerima takdir, dan melakukan sesuatu yang menunjukkan penerimaannya, serta caranya mengawali dan mengakhiri rencana, ikhtiarnya dengan memanjatkan doa kepada Rabb-nya menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita.

Kalimat yang disampaikannya mengingatkan kita dengan kecintaan, keikhlasan, pengorbanan, dan keyakinan besar seorang Nabiyullah Ibrahim ketika diminta menyembelih putranya Ismail. Maka ketika keduanya disandingkan menjadi keluarga yang dipilih Allah dalam ayat QS Ali Imran:33, menjadi sangat jelas bagi kita Grand tips apa yang harus kita pelajari.

Pertanyaannya adalah,

Sudahkah kita selalu berusaha menunjukkan kedekatan kita kepada Rabb kita.

Sudahkah kita sudah menempatkan Allah sebagai yang pertama dan utama dalam kehidupan kita?

Sudahkah Allah menjadi tempat pertama kita mengadu, memohon, dan yang utama apakah kita ikhlas memberikan segalanya untuk mendapatkan keridhoan-Nya?

Tanpa menafikan pentingnya ikhtiar sebagai bagian dari usaha kita menunjukkan kepada Allah bahwa kita sudah melakukan yang terbaik sebagai manusia dalam menjaga makhluk Allah yang dititipkan kepada kita, namun kita seringkali lupa bahwa DOA menunjukkan puncak tauhid seseorang. Ikhtiar bisa melalui berbagai macam cara, berbagai tips, dan ijtihad dari masing-masing individu. Tapi pernahkah terpikir kenapa Allah justru menceritakan tips parenting dari keluarga Imran hanya dari dua ayat yang keduanya “hanya” berupa doa. Allah bahkan tidak menceritakan ikhtiar apa yang dilakukan istri Imran untuk melahirkan anak yang sehat, pun tidak menceritakan ikhtiar step by step cara mendidik anak ala Istri Imran?

Allah ingin menunjukkan kuasa-Nya dengan menyampaikan cara untuk mendapatkan perlindungan bagi anak-anak kita. Semua manusia di muka bumi bisa berikhtiar, bahkan memiliki ikhtiar yang sama, namun yang membedakan mukmin dengan lainnya adalah, kita punya IMAN. Dan puncak Iman seorang mukmin adalah dengan doanya. Dengan menghubungkan hatinya dengan Rabb-Nya. 

Ya Allah,
Saksikan,
Inilah cintaku, asaku, keyakinanku…
Kepada-Mu Yang Maha Mendengar…